Sabtu, 12 Juli 2014

Pertumbuhan Industri animasi harus didorong jelang MEA 2015

MERDEKA.COM. Kementerian Perindustrian mendorong pertumbuhan industri animasi untuk menghadapi persaingan industri menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015.

"Nanti saat diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015, tentu industri animasi pun akan bersaing. Oleh sebab itu potensi industri animasi di Indonesia harus turut didorong berkembang," kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Triharso dalam Forum Komunikasi Penguatan Kelembagaan Pusat Pengembangan Industri Telematika di Yogyakarta, Selasa (24/6).

Seperti diberitakan Antara, dalam forum yang mempertemukan antarpelaku industri animasi di Yogyakarta tersebut, Triharso mengatakan Kemenperin siap mendukung tumbuhnya industri animasi di berbagai daerah.

Apalagi, menurut dia, industri animasi memiliki potensi ekonomi yang cukup besar yang dapat diandalkan saat memasuki MEA 2015.

"Kami siap memfasilitasi dalam bentuk promosi, pameran atau membuat pusat-pusat pertumbuhan industri animasi di berbagai daerah. Intinya dalam industri animasi ini jangan sampai kita hanya menjadi penonton," kata dia.

Menurut dia, dalam rangka mendukung pertumbuhan industri tersebut, saat ini Kemenperin telah membentuk pusat-pusat industri animasi di empat kota, seperti Bali, Jakarta, Semarang, serta Pacitan.

Menurut dia Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) kreatif di bidang industri animasi cukup besar. "Indonesia punya potensi cukup besar. Misalnya saja produk film animasi 'Battle of Surabaya' dihargai hingga 30 juta dolar," ucapnya.

Meski demikian, ia mengaku prihatin dengan banyaknya animator potensial asli Indonesia yang justru mempersembahkan karyanya untuk industri di negara lain.

"Jangan sampai sumber daya manusia (SDM) potensial nanti justru pindah ke negara lain. Itu hanya karena mereka belum merasakan adanya iklim industri animasi di Indonesia," tuturnya.

Forum Komunikasi Penguatan Kelembagaan Pusat Pengembangan Industri Telematika, yang diselenggarakan Kemenperin tersebut merupakan sarana untuk menyatukan visi-misi antara pemerintah dan pelaku industri animasi dalam mengembangkan industri tersebut.

Industri Asuransi Harus Kreatif Jelang MEA 2015

Jakarta, GATRAnews - Segera diterapkannya kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 membuat para pelaku usaha di berbagai sektor bisnis mulai bersiap. Hal tersebut juga berlaku pada perusahaan-perusahaan asuransi yang ada di Indonesia. Tak hanya berbenah diri jelang penerapan MEA, pelaku industri asuransi sadar bahwa kesiapan sangat diperlukan guna menyongsong era pasar bebas yang kian nyata.

"Masyarakat Indonesia sudah banyak yang sekolah, tinggal di luar negeri. Di sana mereka terbiasa dengan produk-produk asuransi yang variatif, inovatif. Pilihannya beragam. Begitu mereka balik ke sini (Indonesia), jangan sampai produk (asuransi) yang kita punya biasa-biasa saja. Yang standar-standar saja. Kita harus kreatif," ujar Direktur Asuransi Sinar Mas, Dumasi Samosir, di Jakarta, Senin (14/4).

Jika tuntutan kreatif tersebut tidak dipenuhi, menurut Dumasi, maka wajar bila pasar asuransi di Indonesia nantinya lebih melirik produk-produk yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi dari luar negeri.

Selain menuntut adanya kreativitas dan inovasi produk dari pelaku industri, Dumasi menjelaskan, peran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator juga dinilai penting untuk dapat terus menjaga daya saing industri asuransi nasional di tengah eprsaingan global.

Salah satu upayanya adalah dengan memberi celah dan peluang bahkan dorongan untuk pelaku industri dalam mengembangkan produk-produknya sehingga tidak kalah dibanding prosuk asuransi dari luar negeri. "Kami percaya (pengurus OJK) yang di dalam sana lebih pintar-pintar. Lebih paham dan lebih bisa melihat secara obyektif terhadap kondisi industri. Harus terus dipantau perkembangan (asuransi) di luar sana, di Singapura, di Korea, di Eropa. Jangan mau ketinggalan. Kita harus siap bersaing," tutur Dumasi.

Beberapa waktu lalu, Dumasi mengakui, pihaknya sempat meluncurkan inovasi baru berupa layanan asuransi mobil yang menawarkan pengembalian premi sebesar 100 persen bila dalam tujuh tahun berturut-turut tidak ada klaim yang diajukan. Sayang, produk inovatif tersebut oleh OJK diangggap bertentangan dengan aturan main usaha perasuransian, sehingga harus dihentikan.

"Namun untuk produk yang sudah terlanjur terjual, kami pastikan bahwa segala komitmen yang ada akan tetap kami jaga hingga kontrak habis. Semua fasilitas yang ada tetap tersedia, namun untuk penjualan produk baru sudah tidak diperkenankan oleh pihak OJK," pungkasnya. (*/DKu)

‘Pasar Busana Muslim Global Masih Sangat Besar’

dakwatuna.com – Jakarta. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengharapkan pengusaha busana muslim terus meningkatkan produktivitas dan daya saing dalam rangka memajukan peran industri kreatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
“Saya berharap pelaku usaha busana muslim dari Indonesia memperhatikan pada pendaftaran serta promosi brand produk,” ujar Hatta saat meresmikan Indonesia Islamic Fashion Fair 2013 di Jakarta Convention Centre, Kamis (30/5).
Menurut Hatta, pelaku usaha dapat memanfaatkan fasilitas dan dukungan pemerintah, baik berupa kemudahan akses permodalan, fasilitas promosi, peningkatan kapasitas wirausaha kreatif, maupun hak atas kekayaan intelektual.
“Pasar busana muslim global masih sangat besar,” ujar Hatta.
Jumlah umat Islam sedunia saat ini mencapai 1,2 miliar yang tersebar di hampir 60 negara di dunia dengan total PDB mencapai 1,3 triliun euro.
Hatta berharap agar pelaku usaha busana muslim dari Indonesia dan dari negara-negara sahabat dapat saling menumbuhkan iklim persaingan yang sehat, terbuka, dan berkeadilan.
Berbagai kesempatan ekonomi internasional, lanjut Hatta, juga bisa dijadikan ajang untuk promosi dan memperkenalkan busana muslim Indonesia kepada negara-negara lain.
“Kita harus memanfaatkan secara cerdas forum Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, APEC, WTO, dan lainnya, sebagai peluang untuk meningkatkan keuntungan bagi dunia usaha,” kata Hatta.
Terakhir, Hatta juga mengimbau para menteri dan gubernur untuk terus memberikan dukungan kebijakan pada penguasaan teknologi yang mendukung peningkatan inovasi, produktivitas, dan daya saing industri busana muslim dan industri kreatif lainnya. (ympp/rol)

Indonesia Bersiap Menyambut Era Gaya Hidup Digital

Selasa, 03 Juni 2014 14:19:23 | Diposting oleh, bruno | Kategori: Events | Dibaca 351 kali


Jakarta, Juni 2014 – Dewasa ini, kebutuhan akan telepon seluler dalam kehidupan sehari-hari memang tak dapat dielakkan. Telepon seluler telah mengambil posisi penting bagi setiap orang di seluruh pelosok dunia, bukan hanya sebagai alat komunikasi namun juga menjadi media untuk mendapatkan informasi, berkreasi, hingga bertransaksi.

Indonesia Bersiap Menyambut Era Gaya Hidup Digital

Menurut International Data Corporation (IDC), sebuah lembaga periset pasar internasional, pertumbuhan penjualan smartphone tumbuh 12% dan tablet tumbuh 18% dibanding tahun 2013. Menurut laporan dari eMarketer, perusahaan peneliti pasar, pengguna telepon seluler di seluruh dunia akan mencapai 4,55 miliar tahun 2014 ini.  Walaupun di satu sisi, penjualan PC diprediksi masih tetap berkutat di angka 6%.

Indonesia sendiri menurut lembaga riset GFK Asia merupakan penyumbang terbesar dalam penjualan smartphone di kawasan Asia Tenggara, disusul oleh Thailand dan Malaysia. Tahun 2013, total penjualan smartphone di Indonesia mencapai 14,8 juta unit  dengan total transaksi US$ 3,33 miliar atau sekitar Rp 39,4 triliun. Dalam hal ini, Indonesia memiliki kontribusi 30% bagi total penjualan smartphone di Asia Tenggara.

Peningkatan pendapatan kelas menengah di Indonesia menjadi salah satu faktor semakin konsumtifnya masyarakat, termasuk untuk produk telekomunikasi yang paling mutakhir. Sepanjang sejarah perkembangan sektor telekomunikasi di Indonesia, terus terjadi pergeseran dan perubahan kebutuhan maupun selera masyarakat terhadap pilihan ponsel. Hal ini ditunjang pula oleh harga smartphone yang semakin terjangkau.



Indonesia Siap Hadapi Tantangan Persaingan

Seiring dimulainya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015 mendatang, para pelaku industri TI di Indonesia harus terus berpacu untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Para pemain di industri TI Indonesia harus mempersiapkan diri untuk meningkatkan kapabilitas dan daya saing dengan memperdalam wawasan tentang konsumen di Indonesia serta meningkatkan kualitas infrastruktur sumber daya manusianya.

Seiring dengan diperkenalkannya beberapa teknologi baru seperti akses mobile 4G LTE dan IPTV serta cloud computing menjadi faktor pendorong untuk peningkatan penjualan bukan hanya dari sisi retail, namun juga enterprise. Apalagi Indonesia sendiri juga optimis untuk melakukan ekspansi ke regional.



Indonesia Cellular Show Gambaran Perkembangan Seluler di Indonesia

Sejalan dengan optimistis pemerintah Indonesia, Asosiasi penyelenggara Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) juga terus berupaya untuk memperkuat daya saing para pelaku industri ini di Indonesia. Alexander Rusli, Ketua Umum ATSI menjelaskan bahwa ATSI terus berkomitmen untuk memajukan telekomunikasi nasional. “Kami juga akan terus memperkuat kerjasama antara pelaku industri ini, baik regulator maupun operator guna mewujudkan kualitas layanan yang semakin baik untuk masyarakat pengguna telekomunikasi. Hingga pada akhirnya juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” terang Alexander Rusli yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum ATSI untuk periode 2014 – 2016 pada bulan Maret lalu.

Salah satu program yang diusung ATSI setiap tahun untuk mensosialisasikan perkembangan teknologi dan layanan telekomunikasi adalah melalui pelaksanaan pameran Indonesia Cellular Show (ICS), yang telah memasuki tahun kesebelas pelaksanaannya. ICS akan digelar selama lima hari pada 4 – 8 Juni 2014 di Cendrawasih Hall & Main Lobby Jakarta Convention Center. Dengan tema “Welcome to Digital Lifestyle” ICS 2014 akan menghadirkan kurang lebih 26 exhibitor, terdiri dari 4 operator seluler, 16 vendor seluler, serta 6 perusahaan pendukung dan aksesoris.

“Era digital saat ini memberikan peluang menjanjikan bagi tumbuhnya industri kreatif di Indonesia, oleh karena itu dengan mengusung tema Welcome to Digital Lifestyle, event ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat tentang perkembangan telekomunikasi di Indonesia, sehingga masyarakat juga menjadi konsumen yang cerdas,” terang Alexander Rusli.

ICS 2014 yang bertempat di lahan seluas 7.500m2 ini akan dimeriahkan pula dengan berbagai program pendukung unggulan seperti Opening Ceremony, Workshops, Conference/Seminar, Temu Pelanggan Seluler (TPS) 2014, Miss ICS 2014, Best Stand Award ICS 2014, serta Indonesia Cellular Award 2014 yang merupakan penghargaan bagi para pelaku industri telekomunikasi di tanah air. Selain itu, ada pula Diskusi panel dengan tema “Penyalahgunaan Penguat Sinyal Seluler” yang merupakan program diskusi yang diselenggarakan oleh ATSI dalam rangka memberikan informasi megenai penggunaan penguat sinyal tidak resmi dari operator dapat menimbulkan interfensi pada jaringan telekomunikasi milik penyelenggara lain.


Kolaborasi Indonesia Cellular Show dan Festival Komputer Indonesia

Bersamaan dengan pelaksanaan ICS, kembali digelar pula pameran Festival Komputer Indonesia (FKI). Dyandra Promosindo, selaku penyelenggara FKI melaksanakan pameran ini di tiga kota besar Indonesia, yaitu Jakarta dan Makassar (4 – 8 Juni 2014), dan Yogyakarta (7 – 11 Juni 2014).

FKI juga akan dimeriahkan oleh berbagai program unggulan antara lain Digital Creative Weekend yaitu sebuah program seminar dan workshop mengenai pengembangan aplikasi untuk pelajar dan mahasiswa, Mobile Photography adalah mini workshop tentang seni fotografi dengan menggunakan smartphone, serta Fun Science  for Kids yang merupakan acara edukasi yang diperuntukkan kepada anak-anak megenai seputar teknologi saat ini. Selain itu, akan hadir seorang tamu istimewa yaitu Hugo Barra, Vice President Xiaomi yang juga mantan arsitek Google dalam salah satu acara talkshow di stage pameran.

Bambang Setiawan, Chief Operational Officer Dyandra Promosindo mengatakan bahwa dengan integrasi kedua pameran ini diharapkan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui perkembangan teknologi, informasi, dan telekomunikasi secara terintegrasi dan menyeluruh.

Transaksi Paviliun Kemendag Di INACRAFT 2014; Capai Rp 1,4 Miliar

Kontributor : Teks; Asrul Muchsen / Foto2: IsT

Pencapaian Target Membanggakan
Jakarta, Kabarindo– Ajang INACRAFT 2014 yang difasilitasi Kementerian Perdagangan pada 23-27 April 2014 lalu berhasil memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha dan perajin.

Hal ini terlihat dari jumlah transaksi dan inquiry yang mencapai lebih dari Rp 1,4 miliar, baik dari pembeli mancanegara maupun pembeli lokal.

"Dalam catatan kami (Kemendag), total transaksi yang dihasilkan selama lima hari pameran mencapai Rp 1.403.369.000. Nilai ini sungguh menggembirakan karena mengalami kenaikan sebesar 5,16% dibandingkan tahun lalu yakni Rp 1.334.559.000," papar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Nus Nuzulia Ishak.

Kemendag melalui Paviliun Ditjen PEN bertemakan “Trade with Remarkable Indonesia” berhasil menarik lebih dari 2.500 pengunjung. Tercatat pembeli yang datang berasal dari Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Australia, India, Pakistan, Thailand, Iran, Tiongkok, Uni Emirat Arab, Nigeria, Italia, Denmark, Jerman, Afrika, dan pembeli lokal.

Paviliun Kemendag menampilkan keanekaragaman produk Indonesia yang dihasilkan dari kekayaan alam bumi nusantara. Menempati area seluas 162 m2, Paviliun tersebut memfasilitasi 20 usaha kecil dan menengah yang menampilkan produk perhiasan mutiara dan perak, fesyen, pakaian, tas dan sepatu berbahan tenun, songket, batik, kerajinan dari kerang, alumunium, kaca, anyaman bambu, alas kaki dan tas dari kulit, serta produk spa dan aromaterapi.

Selain transaksi yang besar, produk-produk yang dipamerkan juga meraih beberapa penghargaan. Produk lilin aromaterapi dari Kandelaku dan sepatu anak desain lego dari Meta Astari meraih penghargaan dari Majalah Femina. Tak hanya itu, mangkuk keramik dengan desain frangipani (bunga kamboja) dari Celladona dan kotak penyimpanan berbahan dasar aluminium dari Passion for Handicraft berhasil meraih penghargaan di INACRAFT Awards 2014. “Merupakan sebuah kebanggaan bagi kami karena para pemenang (INACRAFT Awards) ini selanjutnya meraih kesempatan diseleksi dalam kompetisi internasional untuk kerajinan, World Craft Council Awards 2014,” lanjut Dirjen Nus.

Penganugerahan INACRAFT Awards 2014 menyeleksi 21 produk dari sekitar 1.650 peserta dan 19 produk independen yang ada di pameran INACRAFT 2014. Produk-produk yang diseleksi dibagi menjadi tujuh kategori, yakni kategori keramik, kategori serat alam, kategori tekstil, kategori kayu, kategori batu-batuan, kategori metal, dan kategori material lain. Sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta pameran atas karya terbaik anak bangsa, penghargaan ini memotivasi pengembangan kreativitas para perajin Indonesia.

“Melalui inovasi dan kreativitas para perajin dalam menciptakan produk berdesain menarik, unik, dan ramah terhadap lingkungan tanpa menanggalkan ciri khas budaya, dapat menjadikan produk Indonesia, khususnya kerajinan, lebih berdaya saing di pasar global. Terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 mendatang,” tutup Dirjen Nus.

Kerajinan merupakan salah satu industri kreatif yang berkontribusi besar terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan ekspor produk kerajinan selama lima tahun terakhir terus mengalami pertumbuhan sebesar 4,6%. Pada 2013, total ekspor produk kerajinan Indonesia mencapai USD 669,1 juta dengan negara tujuan ekspor utama Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Jerman, dan Hong Kong. Sementara itu, ekspor produk kerajinan pada 2014 ditargetkan dapat meningkat sekitar 7%-8% atau mencapai nilai sekitar USD 720 juta-USD 730 juta.

Prospek Industri Kosmetik dan Pasar Bebas ASEAN

Bryan Tilaar  ;  Direktur Utama PT Martina Berto Tbk (MBTO)
KORAN SINDO, 24 Juni 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Prospek industri kosmetik di masa depan cukup baik. Kalau kita lihat industrinya tumbuh rata-rata 7–9% per tahun. Hal itu seiring perkembangan gaya hidup konsumen Indonesia dan dunia. Produknya juga semakin beragam, mulai dari hair care, skin care hingga herbal.
Penggunanya bukan lagi hanya perempuan. Pria pun sekarang lebih intens menggunakan produk-produk kosmetik. Misalkan produk perawatan untuk kulit, rambut, dan tubuh. Tapi kalau make up masih sangat jarang, bahkan khusus di Indonesia, saya belum pernah melihat. Penyebab lain, sebagian besar masyarakat memiliki kesan negatif terhadap metroseksual. Kenapa begitu? Memang butuh waktu. Pria metroseksual menaruh perhatian lebih pada penampilan. Cenderung memiliki kepekaan mode dan memilih pakaian berkualitas atau bermerek serta memiliki kebiasaan merawat diri atau grooming.
Salah satu tokoh dunia yang kerap diidentikkan dengan metroseksual itu adalah David Beckham. Jadi kalau ada yang mengatakan ini industri yang dying, itu tidak benar. Justru ini industri yang mempunyai prospek ke depan. Persaingan antara pemain lokal, produk impor dan investasi asing akan sangat ketat. Ini menunjukkan industri kosmetik sangat diminati. Dalam menghadapi pasar bebas ASEAN, perusahaan-perusahaan kosmetik sudah sangat siap. Mulai dengan memodernisasi mesin hingga meningkatkan kualitas talenta sumber daya manusia dan strategi bisnis.
Apalagi Masyarakat Ekonomi ASEAN ini merupakan sebuah keniscayaan. Di manamana kalau mau maju tidak bisa hidup sendiri, tapi harus hidup dengan sekitarnya. Otomatis asing bisa masuk ke Indonesia, tapi Indonesia juga bisa ke luar negeri. Jadi begitu yang terjadi. Pengamatan saya, perusahaan kosmetik berskala besar sudah siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN karena mereka bukan pemain baru. Tapi memang perusahaan kosmetik berskala UKM masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, di antaranya mengembangkan jaringan, pemasaran, dan masalah internal.
Tapi kembali lagi, sebagai pebisnis, saya melihat kalau semangat ada, kemauan untuk belajar ada, pasti bisa. Pelaku usaha harus seperti itu. Apalagi di masa mendatang akan menghadapi persaingan yang semakin dahsyat. Agar semakin besar, modal usaha harus terus ditingkatkan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memperkuat sisi itu. Di antaranya pinjaman bank, melepas saham ke publik (initial public offering/IPO), mengundang investor yang sesuai dengan visi, misi, dan kultur perusahaan. Strategi ini bisa berdampak positif bagi perusahaan.
Khususnya dalam menjaga kepercayaan investor, bank, dan institusi keuangan lain. Jadi salah satu tantangan ke depan adalah harus menjaga dan meningkatkan kepercayaan. Tantangan lain, mengubah mindset konsumen agar lebih banyak mengonsumsi produk dalam negeri. Pada saat ini, produk impor masih disukai pasar. Sesuatu yang berasal dari Barat dan negara-negara Asia yang jauh lebih maju dianggap sangat advance. PadahalproduklokalIndonesia tidak kalah kualitasnya. Ini pekerjaan rumah kita untuk menjelaskan bahwa produk dalam negeri tidak kalah dari luar negeri.
Tentunya di sisi lain, produk lokal juga harus membuktikan bahwa pilihan masyarakat memang tidak salah. Kalau upaya industri mengubah mindset konsumen Indonesia jelas ada. PT Martina Berto Tbk telah lama melakukannya. Di antaranya dengan mengeluarkan produk yang inovatif dan diminati konsumen. Tapi ini memang membutuhkan waktu dan harus dilakukan bersama-sama. Misalnya Martha Tilaar Shop. Ini sebenarnya tidak kalah dengan ritel-ritel kosmetik asing yang lain. Kita ada Indonesia touch yang bagus, inovasi, dan modernisasi.
Martha Tilaar Shop sudah diterima konsumen lokal Indonesia, terbukti dengan pertumbuhan bisnisnya tiap tahun di atas 15%. Tentunya kita juga berharap peran dari lembaga negara dalam rangka memberikan intensif atas kreativitas-kreativitas perekonomian. Itu harus digenjot terus ke depan. Bentuknya bisa berupa insentif pajak dan sebagainya. Itulah yang menyebabkan saya optimistis dengan Indonesia. Apalagi pemilu legislatif telah dilalui dan semuanya berjalan baik. Nanti pemilihan umum presiden juga saya yakini akan berjalan baik.
Siapa pun yang menang dan kalah, saya meyakini akan sangat bersahabat dengan pasar. Kalau sekarang ada selisih pendapat antarpendukung, ini merupakan pembelajaran positif di Indonesia. Kalau di negara maju, nantinya pihak yang menang dan kalah akan bersama lagi. Selisih pendapat itu biasa. Namanya juga bertanding, ada pendukung A, B, dan C. Tapi setelah itu bersama-sama lagi.

Industri Alas Kaki Indonesia Dihadapkan pada Tantangan MEA 2015

Kementerian Perindustrian menyatakan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, industri alas kaki nasional akan menghadapi tantangan besar khususnya dalam mempersiapkan tenaga kerja yang handal.
Tahun 2015 pada saat MEA diberlakukan, sektor alas kaki akan menghadapi tantangan sekaligus peluang bagi para pemangku kepentingan.
Tantangan sekaligus peluang tersebut disebabkan pasar tenaga kerja dari negara anggota ASEAN akan bebas masuk ke Indonesia, termasuk ke sektor alas kaki, dan pemangku kepentingan serta industri alas kaki nasional harus menyiapkan tenaga kerja handal dan profesional untuk mengisi sekaligus mendominasi pasar tenaga kerja domestik.
Pemberlakuan MEA pada 2015 menjadi sebuah realita yang harus dihadapi oleh sektor industri alas kaki nasional, ditengah perbandingan kebutuhan pasar dengan tenaga kerja industri yang terjadi saat ini. Ekonomi nasional saat ini banyak didorong oleh kontribusi industri kreatif dengan melibatkan banyak generasi muda yang memiliki kreativitas dan inovasi.
Selain itu, dalam upaya mengangkat komunitas kreatif serta mensosialisasikan peran dan fungsi BPIPI dalam pengembangan industri alas kaki nasional melalui media kreatif dan fashion, telah dilakukan Penandatanganan Komitmen Bersama Kampus Terapan antara BPIPI, ITS Design Center, Pusat Riset Alas Kaki Universitas Ciputra dan Batik Fraktal yang merupakan program awal BPIPI menjadi pusat aktivitas kreatif industri alas kaki nasional.
Dalam memperingati satu Dasawarsa BPIPI, yang dilaksanakan pada tanggal 16-17 November 2013 di Tanggulangin, Sidoarjo, lalu, BPIPI juga menggelar sejumlah kegiatan untuk mendorong pengembangan industri alas kaki nasional agar dapat terus meningkatkan daya saing dan mengoptimalkan eksistensinya di pasar gobal.
Di samping itu, untuk mempromosikan produk unggulan binaan BPIPI, diselenggarakan Bazaar Alas Kaki, Tas Murah, dan Kuliner Sidoarjo yang diikuti 32 peserta dari Komunitas Sentra Tanggulangin serta IKM Alas Kaki dan perusahaan besar binaan BPIPI.
Industri alas kaki di Indonesia sendiri tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi Indonesia yang terjadi pada awal tahun 1970-an. Industri alas kaki tumbuh stabil tahun demi tahun, namun secara sektoral industri alas kaki belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Dari perpektif skala usaha, hanya industri berskala besar yang mampu bertumbuh secara signifikan.
Namun, sejak awal tahun 1980-an, industri alas kaki Indonesia tumbuh cepat seiring dengan masuknya investasi asing yang khusus memproduksi alas kaki tujuan ekspor. Perkembangan industri yang terjadi sangat cepat ini juga didukung oleh upaya pemerintah yang terus berupaya menjaga situasi politik dan keamanan dalam negeri tetap kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya industri alas kaki. Tumbuhnya industri pendukung juga menjadi salah satu faktor berkembangnya industri alas kaki nasional. Kondisi ini telah menyebabkan ongkos produksi lebih efisien serta target produksi yang sesuai permintaan buyer luar negeri.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan industri alas kaki merupakan andalan industri manufaktur Indonesia dengan menyumbang nilai ekspor 12,46 miliar dolar AS pada tahun 2012 lalu. Dengan nilai ekspor tersebut, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dunia sebesar 1,8 persen untuk produk alas kaki. Selain itu, jumlah tenaga kerja yang terserap juga cukup besar, dimana industri alas kaki menyerap 700 ribu orang pekerja.
beritadaerah.com